The Darkness Of Gatotkaca

Seorang patriot yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai yang dia pegang.
Seorang panglima perang yang selalu melaksanakan tugas dengan tuntas.
Seorang pahlawan yang selalu rela berkorban demi bangsa dan junjungannya.
Sosok yang hidup dalam kesendirian dan kesunyian.
quote ini diambil dari sampul buku The Darkness Of Gatotkaca

The Darkness of Gatotkaca buku karangan Pitoyo Amrih, baru saja selesai saya baca. Buku ini menceritakan tentang kisah kehidupan Gatotkaca, tokoh dunia wayang yang memiliki kesaktian tanpa tanding di dunia wayang. Gatotkaca lahir dari pasangan Raden Bima dan Dewi Arimbi. Bisa dikatakan persilangan antara manusia dan bangsa raksasa. Continue reading

Berlayar Ke Alaska

Cruise On You judul buku kedua Margareta Astaman, tentang mimpi seorang marella sejak kecil ingin naik kapal pesiar. Impian yang sering dilupakan oleh setiap orang yang beranjak dewasa, bahwa ada anak-anak dalam setiap diri kita yang kita bunuh minimal ditidurkan, anak-anak yang mempunyai mimpi sehingga hidup itu lebih bersemangat daripada sekadar realita yang lebih berjalan stagnan – mapan. Anak kecil yang selalu bersemangat bermimpi setinggi langit, percaya keberuntungan bukan sekadar perjudian yang kemungkinannya 1:100 tapi adalah nyata bila kita berusaha mewujudkannya.

Cruise On You - Margareta Astaman

Adalah Marella seorang gadis dewasa yang bekerja sebagai creative illustrator dengan gaji dua juta perbulan plus kegemaran belanja sepatu menjauhkannya menabung untuk meraih mimpinya berlayar dengan kapal pesiar. Tapi, bermula dari iseng mendaftar lomba foto romantis berhadiah berlayar ke Alaska, Marella bisa mewujudkan impiannya berlayar dengan kapal pesiar.

Entah sial atau memang nasib, ticket berlayar itu hanya bisa diambil oleh pasangan yang ada di foto. Dan tambah sial lagi, foto itu merupakan foto berdua dengan mantan pacarnya. Mantan pacar yang tidak pernah ingin ditemui lagi disisa hidup Marella. Adegan-adegan kocak dan konyol mengaliri buku ini, membuat aliran cerita menjadi sangat enak dibaca. Mulai dari kisah Marella mencari mantan pacarnya dengan menelpon separuh jakarta sampai keleleran dipinggir jalan, bahkan saat kepalanya blank, dia REG salah satu paranormal terkenal, meminta wangsit keberadaan mantan pacarnya.

Margie, sapaan akrab Margareta Astaman, menggambarkan seting secara detail. Saat membacanya serasa saya dibawa ke Alaska menikmati suasana keindahan gletser, tambang emas kuno juga hutan tundra. Drama-drama kocak antara sepasang mantan kekasih saat berlayar, hingga konflik emosi yang akhirnya mendamaikan perseteruan seumur hidup mantan pasangan itu.

Yang perlu ditarik pesan dari buku kedua Margie ini adalah impian tidak boleh dibunuh, semustahil apapun impian, nyatanya nggak ada yang mustahil. Semangat mewujudkan impian. Dan jalan mencapai impian harus dengan jalan yang jujur, bukan sebuah kepalsuan atau kebohongan, pada akhirnya biji yang buruk buahnya juga buruk. Dan biji yang baik tidak akan berhenti berbuah kebaikan.

Dan akhirnya saya tak harus berlayar dua minggu untuk menikmati Alaska, malahan bisa tertawa membaca dan mendapat pelajaran berharga dengan Cruise On You.

Berlayar di Bengawan bareng Margareta

Berlayar di Bengawan bareng Margarita - design by mursid.web.id

Itulah judul acara Komunitas Blogger Bengawan, tadi pagi. Bincang-bincang santai dengan Margareta Astaman dan peluncuran buku kedua berjudul “Cruise On You” sekitar pukul 10 pagi di Musro, dengan dukungan penuh The Sunan Hotel.

Kisah-kisah menarik diungkapkan Margarita mengalir dan khas disertai tawa yang menghiasi wajahnya. Tak kalah seru Bengawaners (sebutan member bengawan) sebagai ahli fast commet, celetuk, dan kadang hoax, menanggapi Margarita dan pancingan blogger mbois yang menjadi moderator sekaligus MC menjadikan sesi pagi itu menjadi sangat menarik. Kantuk saya pun hilang seketika.

Banyak kisah menarik yang bisa dijadikan pelajaran dari Margarita Astaman, sebagai seorang Country Editor MSN, blogger, wanita, dan peranakan Cina yang bangga menjadi orang Indonesia. Kalau ditanya soal ambisi maka dia akan menjawab, bahwa kehidupan menurutnya seperti air yang mengalir selama aliran itu baik maka akan berbuah kebaikan. Kalau saya menerjemahkan, mungkin seperti orang yang berada diatas perahu di sungai yang mengalir. Selama aliran itu memang menuju arah yang baik maka saya tinggal mengikutinya. Kalau aliran itu menuju air terjun yang akan mencelakakan, maka saya masih punya dayung untuk mengendalikan laju perahu itu.

Coffee break dari The Sunan Hotel cukup mengisi lambung saya yang terasa kosong pagi tadi. Buku “Cruise On You” Margy berawal dari kisah cinta temannya yang ditulis Margy dalam blognya. Kisah yang sebenarnya bukan happy ending tapi Margy ngotot bahwa kisah tersebut harus happy ending.

Dan satu lagi, postingan ini bukan resensi buku kedua Margy, sebab saya belum membacanya, untung dapet titipan buku ini. Bisa baca buku gratis. Yang cukup saya sukai dari The Sunan bukan cuma “Single Espresso” yang mantap, tapi juga parkir yang ramah dengan sepeda motor. Dan saya pernah menemui hotel yang parkir motor saja susah seolah hanya menyambut tamu pake mobil.

Menurut Margy, menulis itu bukanlah hal yang sulit, banyak hal-hal kecil yang bisa menjadi tulisan. Ide-ide pun bertebaran di mana saja. Bisa saja ide ditulis di selembar kertas kecil, maka saat menuangkan ide itu akan lebih mudah.

Semalam Bersama Misbach Yusa Biran

Keajaiban di Pasar Senen

Keajaiban di Pasar Senen

Semalam, saya dapat pinjaman buku kumpulan cerpen karya Misbach Yusa Biran berjudul “Keajaiban di Pasar Senen” dari blogger Pak Blontankpoer. Keajaiban di Pasar Senen berisi 17 cerita yang menggambarkan kehidupan seniman Pasar Senen di tahun 1950-an dengan bumbu humor cerdas.

Awalnya saya mau menulis kesan setelah membaca buku ini di twitter atau di plurk, bukan di facebook karena saya sudah bosan dengan facebook. Tapi urung. Sebab kesan yang saya tulis dalam 140 karakter tidak akan bisa mewakili kepuasan saya membaca buku ini.

Bagi saya yang tidak hidup di tahun 1950-an, dan belum pernah berkunjung ke Jakarta, apalagi Jakarta sekarang sudah sangat beda dengan keadaan yang telah berlalu setengah abad yang lalu, hanya bisa mereka-reka bagaimana keadaan Pasar Senen tahun itu dengan apa yang dituliskan Biran, panggilan akrab pengarang dalam buku ini.

Kelucuan sejak awal cerita yang sebenarnya mengungkapkan kepasrahan seorang seniman yang memang belum menghasilkan suatu karya apapun dari suatu keajaiban yang pernah dialaminya, kemudian seorang manusia yang hanya minum kopi tanpa makan nasi, benar-benar membuat saya ketawa semalaman.

Tidak berhenti di situ, Misbach Yusa Biran menghadirkan suasana tahun 1950-an, lewat dialog campuran Belanda-Indonesia yang sering dipakai anak muda kaya waktu itu. Anak-anak muda kaya yang merasa sombong dengan statusnya meski masih kalah ngomong dibanding seniman yang tidak sekolah. Seperti gambaran otak kosong kebanyakan anak muda jaman sekarang.

Dan lagi cerita cinta seniman yang lebih banyak menemui kebuntuan meski ada juga yang berhasil mendapatkan cintanya. Cerita tukang cukur yang merasa menjadi seniman setelah bergaul sedikit dengan seniman bahkan membuat saya semakin terpingkal-pingkal. Semakin banyak saja yang menarik dari Pasar Senen, tempat berkumpul seniman dan yang akan jadi seniman pada masa itu.

Keajaiban di Pasar Senen menyajikan humor yang cerdas, tidak membosankan, dan beberapa cerita memang cukup menyentuh. Kesan saya, banyak hal yang menarik dari kehidupan sehari-hari yang bisa menjadi pelajaran meski hal itu kadang remeh dan jarang terpikirkan. Otak kosong saya yang selama beberapa waktu ini malas menulis di blog ini menjadi semangat lagi menulis. Banyak hal yang bisa diceritakan. Mungkin berawal dari percakapan kecil, menjadi hal yang menarik ketika dituangkan dalam sebuah cerita.

Updated 06/04/2010:

Profil Misbach Yusa Biran di wikipedia

Terima Kasih

Sebuah Kutipan dari buku yang pernah saya baca.

Ketika ditanyakan kepada Ardabili mengapa ia tak pernah mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah berbuat baik kepadanya, ia menjawab:

“Engkau tidak akan dapat menghargai sikapku ini. Jika kuucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah berbuat baik kepadaku, mereka akan merasa senang, dan kesenangan ini sama artinya dengan bayaran atau imbalan atas jerih payah mereka. Jika tidak kuucapkan terima kasih, maka masih ada kemungkinan bahwa di masa yang akan datang mereka akan mendapat ganjaran dari amal mereka itu – dan ganjaran ini mungkin jauh lebih baik untuk diri mereka. Misalnya, mungkin ganjaran itu mereka terima ketika mereka sungguh-sungguh membutuhkannya”.

Dikutip dari “Hikmah dari Timur” pengarang Idries Shah, Penerbit Pustaka 1982.