Blog, Weblog, Online Diary, dan sebutan lainnya, masih terasa awam bagi sebagian orang yang akrab dengan internet. Orang yang hobi nge-blog biasa disebut blogger pun, sering disangka spesies lain yang punya makanan, hobi, ketertarikan tersendiri. Kadang saya bingung mau jawab, ketika ditanya “selera musik blogger itu apa?”, atau “makanan favorit blogger itu apa?”, bahkan ada yang tanya “San, pekerjaanmu masih blogger?”. WTF, sejak kapan blogger jadi pekerjaan?
Bahkan isi blog saya hanya catatan, yang mungkin saya anggap penting, atau sekadar keusilan jari-jari saya memencet tuts keyboard. Dan, blogger itu bukan makhluk dari Spesies lain atau malah Ordo lain. We’re just Human with blogging as hobbies.
Lalu, bermanfaat atau tidak nge-blog itu? Konten setiap blog berbeda satu yang lainnya, terserah pembuat blog itu sendiri. Tak ada yang mengatur. Pembaca atau pencari informasi yang membuka atau nyasar ke sebuah blog, jika sesuai yang diingin dan dibutuhkan, maka bermanfaat, jika tidak, minimal bisa jadi referensi dikemudian hari.
Soal tren nge-blog, saya suka dengan posting PamanTyo, berikut cuplikannya:
Kalau cuma tren, tak ada blog baru, tak ada posting baru. Kalau blog cuma tren, RSS reader hanya berisi produk jurnalistik dari media terlembagakan. Tapi ya itu tadi, tak mungkin (dan tak perlu) kita berharap semua pengguna internet menjadi blogger.
Sumber: http://blogombal.org/2010/11/16/pada-akhirnya-adalah-seleksi/




