blog dan blogger

blog

Blog, Weblog, Online Diary, dan sebutan lainnya, masih terasa awam bagi sebagian orang yang akrab dengan internet. Orang yang hobi nge-blog biasa disebut blogger pun, sering disangka spesies lain yang punya makanan, hobi, ketertarikan tersendiri. Kadang saya bingung mau jawab, ketika ditanya “selera musik blogger itu apa?”, atau “makanan favorit blogger itu apa?”, bahkan ada yang tanya “San, pekerjaanmu masih blogger?”. WTF, sejak kapan blogger jadi pekerjaan?

Bahkan isi blog saya hanya catatan, yang mungkin saya anggap penting, atau sekadar keusilan jari-jari saya memencet tuts keyboard. Dan, blogger itu bukan makhluk dari Spesies lain atau malah Ordo lain. We’re just Human with blogging as hobbies.

Lalu, bermanfaat atau tidak nge-blog itu? Konten setiap blog berbeda satu yang lainnya, terserah pembuat blog itu sendiri. Tak ada yang mengatur. Pembaca atau pencari informasi yang membuka atau nyasar  ke sebuah blog, jika sesuai yang diingin dan dibutuhkan, maka bermanfaat, jika tidak, minimal bisa jadi referensi dikemudian hari.

Soal tren nge-blog, saya suka dengan posting PamanTyo, berikut cuplikannya:

Kalau cuma tren, tak ada blog baru, tak ada posting baru. Kalau blog cuma tren, RSS reader hanya berisi produk jurnalistik dari media terlembagakan. Tapi ya itu tadi, tak mungkin (dan tak perlu) kita berharap semua pengguna internet menjadi blogger.

Sumber: http://blogombal.org/2010/11/16/pada-akhirnya-adalah-seleksi/

WordPress 3.0 Beta 1, Selamat tinggal Kubrick

WordPress 3.0 Beta 1, versi paling baru dari blog software yang populer saat ini. Sejak versi WordPress 3.0 alpha 1 saya sudah mengikuti perkembangannya. Tertarik akan kemana arah perkembangan software blog yang dikembangkan sejak 2003 ini.

Saya coba pasang di sini, sebagai perbandingan dengan WordPress 2.9.1 yang saat ini saya gunakan. WordPress 3.0 alpha 1 sebelumnya, masih punya tampilan warna dashboard yang masih sama dengan versi 2.9.1. Berbeda dengan WordPress 3.0 Beta 1, warna silver menghiasi bagian atas dashboard.

Kalau menurut sumber dari WordPress.org, WordPress 3.0 telah menggabungkan core dari WordPress sefl hosting dan WordPress MU. Jadi WordPress 3.0 nantinya bakal bisa mengelola subdomain langsung dari dashboard utama domain. Fitur ini belum saya coba, sebab masih banyak bug bertebaran dan harus sedikit mengubah wp-config.php.wordpress-3.0-beta1-updates

Selain itu fitur Updates disediakan di menu dashboard, update sistem, plugin, dan themes. Perubahan juga terjadi saat menambah plugin langsung dari blog tanpa perlu membuka konfirmasi lagi, langsung ditanya install atau tidak.wordpress-3.0-beta1-install-plugin

Theme baru yang paling tampak beda dari versi-versi sebelumnya. WordPress 3.0 Beta 1 hanya membawa theme baru bernama Twenty Ten theme yang akan menggantikan kubrick sebagai default theme WordPress self hosting. Selamat tinggal kubrick.Twenty-ten-Theme

Twenty Ten sudah support footer widget, tak perlu lagi ngoprek theme supaya punya widget di kaki. Ada beberapa fungsi baru yang ditanamkan di Twenty Ten sehingga tidak bisa saya tempelkan di WordPress 2.9.x atau mungkin WordPress saya yang error. Terutama fitur Menu, dengan fitur ini bisa mengatur menu apa saja di baris menu blog kita yang akan muncul, paling tidak di sebelah kanan link Home bukan saja akan muncul daftar page seperti biasanya tetapi kita bisa atur sesukanya.

Dibagian Settings Tab Miscellaneous Settings dijadikan satu dengan tab Media, paling tidak mengurangi pemborosan tempat dan lebih efektif saat pengaturan konfigurasi. Perlu diingat sesuai sumbernya di sini, WordPress 3.0 Beta 1 masih merupakan rilis awal versi Beta, mungkin akan sangat berbeda lagi nanti dengan WordPress 3.0

Sore

Sore, cerah, terasa damai sekali. Sudah lama sekali tidak menikmati. Hampir dua tahun disibukkan pekerjaan menyita waktu dan terpaksa menghabiskan waktu di dalam gedung tanpa menyadari pergantian antara siang dan malam itu.

Saat duduk di depan rumah, seperti menemukan sesuatu yang hilang. Perasaan damai saat menyaksikan pergantian siang dan malam membangkitkan memori masa kecil. Memori saat masih ber umur satuan belum belasan bahkan puluhan. Masa kecil saat belum tahu dosa, bukan tidak berdosa. Saat tidak ada beban karena tidak pernah memikirkan masa depan. Hanya menjalani kehidupan mulai membuka kelopak mata sampai terpejam kembali di sepertiga awal malam.

Bedanya dengan sekarang lalu lalang kendaraan lebih ramai daripada dulu. Pohon jambu air yang dulu berdiri tegak sudah hilang tak berbekas. Tinggal pohon belimbing di sebelah barat dan beberapa pohon yang menjulang seperti tombak disebelah timur. Rumah ini pun sudah ditinggalkan penghuni yang lain. Membuat rumah-rumah lain. Rumah ini diam sepi, tak bersuara riang lagi.

Suasana sore ini menghanyutkan. Membius takut dan khawatir. Tinggal damai menyelimuti. Seperti sore yang berumur pendek, kedamaian pun terusik suara handphone. Alat yang sebenarnya menjajah privasi. Mau tak mau, harus angkat kaki dari kedamaian ini. Semoga esok bertemu sore lagi.

Berlayar di Bengawan bareng Margareta

Berlayar di Bengawan bareng Margarita - design by mursid.web.id

Itulah judul acara Komunitas Blogger Bengawan, tadi pagi. Bincang-bincang santai dengan Margareta Astaman dan peluncuran buku kedua berjudul “Cruise On You” sekitar pukul 10 pagi di Musro, dengan dukungan penuh The Sunan Hotel.

Kisah-kisah menarik diungkapkan Margarita mengalir dan khas disertai tawa yang menghiasi wajahnya. Tak kalah seru Bengawaners (sebutan member bengawan) sebagai ahli fast commet, celetuk, dan kadang hoax, menanggapi Margarita dan pancingan blogger mbois yang menjadi moderator sekaligus MC menjadikan sesi pagi itu menjadi sangat menarik. Kantuk saya pun hilang seketika.

Banyak kisah menarik yang bisa dijadikan pelajaran dari Margarita Astaman, sebagai seorang Country Editor MSN, blogger, wanita, dan peranakan Cina yang bangga menjadi orang Indonesia. Kalau ditanya soal ambisi maka dia akan menjawab, bahwa kehidupan menurutnya seperti air yang mengalir selama aliran itu baik maka akan berbuah kebaikan. Kalau saya menerjemahkan, mungkin seperti orang yang berada diatas perahu di sungai yang mengalir. Selama aliran itu memang menuju arah yang baik maka saya tinggal mengikutinya. Kalau aliran itu menuju air terjun yang akan mencelakakan, maka saya masih punya dayung untuk mengendalikan laju perahu itu.

Coffee break dari The Sunan Hotel cukup mengisi lambung saya yang terasa kosong pagi tadi. Buku “Cruise On You” Margy berawal dari kisah cinta temannya yang ditulis Margy dalam blognya. Kisah yang sebenarnya bukan happy ending tapi Margy ngotot bahwa kisah tersebut harus happy ending.

Dan satu lagi, postingan ini bukan resensi buku kedua Margy, sebab saya belum membacanya, untung dapet titipan buku ini. Bisa baca buku gratis. Yang cukup saya sukai dari The Sunan bukan cuma “Single Espresso” yang mantap, tapi juga parkir yang ramah dengan sepeda motor. Dan saya pernah menemui hotel yang parkir motor saja susah seolah hanya menyambut tamu pake mobil.

Menurut Margy, menulis itu bukanlah hal yang sulit, banyak hal-hal kecil yang bisa menjadi tulisan. Ide-ide pun bertebaran di mana saja. Bisa saja ide ditulis di selembar kertas kecil, maka saat menuangkan ide itu akan lebih mudah.