Perkara Ambén

Kadang saya merasa heran, cuma sepotong ambén aja bisa menimbulkan masalah pelik yang cukup membuat pening kepala. Saya katakan sepotong karena sebenarnya “ambén” itu sendiri tidak hanya satu. Dan tidak sebanding dengan kertas-kertas berharga yang dimilikinya. Hal seperti itu menjadi masalah yang cukup pelik dan menyakiti banyak pihak.

Bukan masalah memperkarakan ambén, toh, itu bukan urusanku juga. Tapi, kenapa berawal dari ambén bisa sampe membahas hal-hal yang sebenarnya tidak pantas dibicarakan, dan tidak relevan. Menjadikan api yang tersulut kecil, kebakaran yang cukup besar untuk mengotori hati di bulan puasa yang notabene disucikan dari bulan-bulan lainnya.

Lalu kemana perginya petunjuk yang selama ini dibanggakan dan diagung-agungkan, kalau dengan suatu selentingan yang belum jelas kebenarannya menjadi perkara yang sangat besar.

Saya sendiri juga sebenarnya bersikap egois karena membahas masalah yang mengenai diri saya sendiri, sedang kalau masalah yang serupa menimpa orang lain saya akan cuék. Masa bodoh. Terserah saya dianggap seperti apapun, saya bukan anda dan anda bukan saya. Entah dimana rasa perikemanusiaan saya, saat saya menghakimi orang lain hanya dengan sekali lihat.

Saya sering lebih melihat semua hal dari sisi aliran air kemana akan mengalir, dan kemana saya bisa mengubah arah perahu saya supaya tidak terseret aliran itu. Jangan salah, bukan berarti saya tidak punya pendirian, dan ini bukan pembenaran.

Kalau dilihat dengan cara apapun saya tidak bisa menghentikan atau mengatur bagaimana seseorang itu mendapat petunjuk. Sedang hanya Allah yang bisa memberi petunjuk. Kalau pun saya cuma menyampaikan, itu bukan berarti anda harus menuruti semua perkataan saya. Tanyalah pada diri anda sendiri yang bersih dan tanpa praduga. Dimana salah seseorang sehingga kita patut mendakwa dia bersalah.

Kalau pun dia tidak mendapat petunjuk, bukan berarti dia tidak bersalah, dan bukan berarti dia bersih dari dosa. Itulah proses ujian yang harus dilalui dalam hidup seseorang. Bukan salah siapa pun kalau misalnya saya tidak lulus ujian, itu murni salah saya sendiri yang memang tidak mau memikirkan petunjuk yang sudah diberikan kepada saya. Bukan salah orang tua saya, bukan salah famili saya, saudara, teman, lingkungan.

Jadi salah siapa kalau misalnya saya lebih memilih ambén daripada hubungan silaturahim antar manusia???

(catatan: ambén = bangku rendah panjang biasa dipakai tempat duduk)

Terima Kasih

Sebuah Kutipan dari buku yang pernah saya baca.

Ketika ditanyakan kepada Ardabili mengapa ia tak pernah mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah berbuat baik kepadanya, ia menjawab:

“Engkau tidak akan dapat menghargai sikapku ini. Jika kuucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah berbuat baik kepadaku, mereka akan merasa senang, dan kesenangan ini sama artinya dengan bayaran atau imbalan atas jerih payah mereka. Jika tidak kuucapkan terima kasih, maka masih ada kemungkinan bahwa di masa yang akan datang mereka akan mendapat ganjaran dari amal mereka itu – dan ganjaran ini mungkin jauh lebih baik untuk diri mereka. Misalnya, mungkin ganjaran itu mereka terima ketika mereka sungguh-sungguh membutuhkannya”.

Dikutip dari “Hikmah dari Timur” pengarang Idries Shah, Penerbit Pustaka 1982.

Asal Tulis

Lama sudah tidak update blog ini. Lagi-lagi karena terbentur kesibukan atau malah kemalasan menuangkan tulisan. Entah kemana ide dan kreatif berlibur sehingga belum ada sesuatu yang bisa ditulis.

Mulailah keisengan menulis menghampiri benakku sekedar untuk menyapa kawan-kawan yang membaca blog saya ini.

O ya, saya ucapkan terima kasih kepada Mas Iqbal yang memberi award kepada blog saya ini. Sampe sekarang saya masih belum ambil karena nggak tahu mesti gimana. he…he…he…

Sebenere ada beberapa tutorial dan tulisan yang mau saya posting, tapi masih belum tuntas. Bukan karena kesibukan tapi karena kemalasan aja. he…he…he…

waras nggak?

smile_3d1 Mulai menulis memang sulit sekali. Tinggal pencet tuts keyboard aja dan merangkai kata, serasa ada beban berat. Kayaknya mahal banget menggerakkan jari ini.

Huruf demi huruf yang dirangkai membentuk kata, kata demi kata yang membentuk kalimat, kalimat demi kalimat jadi paragraf. Koyone angil banget.

Rasa jenuh menghadapi layar komputer yang hanya diam menatapku, menampilkan semua  huruf, kata, kalimat yang aku tulis. Padahal aku udah tahu nulis apa, kenapa ditampilkan? Tampilkan sesuatu yang lain gitu.

Serasa seperti orang gila yang kewarasannya mulai berjatuhan seiring semakin banyaknya huruf yang kuketik.

Gambar diambil dari http://clubs.yuwie.com/smiley/