Sore

Sore, cerah, terasa damai sekali. Sudah lama sekali tidak menikmati. Hampir dua tahun disibukkan pekerjaan menyita waktu dan terpaksa menghabiskan waktu di dalam gedung tanpa menyadari pergantian antara siang dan malam itu.

Saat duduk di depan rumah, seperti menemukan sesuatu yang hilang. Perasaan damai saat menyaksikan pergantian siang dan malam membangkitkan memori masa kecil. Memori saat masih ber umur satuan belum belasan bahkan puluhan. Masa kecil saat belum tahu dosa, bukan tidak berdosa. Saat tidak ada beban karena tidak pernah memikirkan masa depan. Hanya menjalani kehidupan mulai membuka kelopak mata sampai terpejam kembali di sepertiga awal malam.

Bedanya dengan sekarang lalu lalang kendaraan lebih ramai daripada dulu. Pohon jambu air yang dulu berdiri tegak sudah hilang tak berbekas. Tinggal pohon belimbing di sebelah barat dan beberapa pohon yang menjulang seperti tombak disebelah timur. Rumah ini pun sudah ditinggalkan penghuni yang lain. Membuat rumah-rumah lain. Rumah ini diam sepi, tak bersuara riang lagi.

Suasana sore ini menghanyutkan. Membius takut dan khawatir. Tinggal damai menyelimuti. Seperti sore yang berumur pendek, kedamaian pun terusik suara handphone. Alat yang sebenarnya menjajah privasi. Mau tak mau, harus angkat kaki dari kedamaian ini. Semoga esok bertemu sore lagi.

Berlayar di Bengawan bareng Margareta

Berlayar di Bengawan bareng Margarita - design by mursid.web.id

Itulah judul acara Komunitas Blogger Bengawan, tadi pagi. Bincang-bincang santai dengan Margareta Astaman dan peluncuran buku kedua berjudul “Cruise On You” sekitar pukul 10 pagi di Musro, dengan dukungan penuh The Sunan Hotel.

Kisah-kisah menarik diungkapkan Margarita mengalir dan khas disertai tawa yang menghiasi wajahnya. Tak kalah seru Bengawaners (sebutan member bengawan) sebagai ahli fast commet, celetuk, dan kadang hoax, menanggapi Margarita dan pancingan blogger mbois yang menjadi moderator sekaligus MC menjadikan sesi pagi itu menjadi sangat menarik. Kantuk saya pun hilang seketika.

Banyak kisah menarik yang bisa dijadikan pelajaran dari Margarita Astaman, sebagai seorang Country Editor MSN, blogger, wanita, dan peranakan Cina yang bangga menjadi orang Indonesia. Kalau ditanya soal ambisi maka dia akan menjawab, bahwa kehidupan menurutnya seperti air yang mengalir selama aliran itu baik maka akan berbuah kebaikan. Kalau saya menerjemahkan, mungkin seperti orang yang berada diatas perahu di sungai yang mengalir. Selama aliran itu memang menuju arah yang baik maka saya tinggal mengikutinya. Kalau aliran itu menuju air terjun yang akan mencelakakan, maka saya masih punya dayung untuk mengendalikan laju perahu itu.

Coffee break dari The Sunan Hotel cukup mengisi lambung saya yang terasa kosong pagi tadi. Buku “Cruise On You” Margy berawal dari kisah cinta temannya yang ditulis Margy dalam blognya. Kisah yang sebenarnya bukan happy ending tapi Margy ngotot bahwa kisah tersebut harus happy ending.

Dan satu lagi, postingan ini bukan resensi buku kedua Margy, sebab saya belum membacanya, untung dapet titipan buku ini. Bisa baca buku gratis. Yang cukup saya sukai dari The Sunan bukan cuma “Single Espresso” yang mantap, tapi juga parkir yang ramah dengan sepeda motor. Dan saya pernah menemui hotel yang parkir motor saja susah seolah hanya menyambut tamu pake mobil.

Menurut Margy, menulis itu bukanlah hal yang sulit, banyak hal-hal kecil yang bisa menjadi tulisan. Ide-ide pun bertebaran di mana saja. Bisa saja ide ditulis di selembar kertas kecil, maka saat menuangkan ide itu akan lebih mudah.

Setahun telah berlalu

bengawan semakin mengalir sampai jauh

bengawan semakin mengalir sampai jauh

365 hari yang lalu, di wedangan yang khas dengan kalkulator tanpa signal berkumpul bloggers solo kopdar yang kedua kalinya – kalo nggak salah. Tenguk-tenguk crita yang penuh keakraban dengan alunan musik akustik sederhana, dibentuklah Komunitas Bengawan yang semula bernama Blogos. Teringat samar-samar malam itu aku datang terlambat. Dan sampai disana pun nggak kenal siapa-siapa secara nyata. Soalnya hanya tahu dari tulisannya dan percakapan di milis.

Malam itu bertambah teman-teman dalam hidupku dari sebuah komunitas yang sangat cair bernama Bengawan. Komunitas blogger surakarta dan sekitarnya yang sedari dulu jadi perhatian kini semakin mengalir sampai jauh.

Meski aliran kadang terhenti sejenak, berkat kekompakan dan rasa saling memiliki Bengawan yang tumbuh atas keterikatan batin menjadikan aliran Bengawan ajeg. Belum ada lagi gelombang besar yang ditimbulkan oleh aliran Bengawan seperti saat launcing februari lalu.

Aku berharap, cairnya komunitas ini tidak menjadikan komunitas ini berhenti mengalir. Masih banyak sungai-sungai kecil yang mengharapkan Bengawan turut andil mengalirinya dengan semangat dan solidaritas.

Kemanakah Bengawan akan mengalir semakin jauh?

iseng kala listrik padam

DSC00159Sudah sejam yang lalu rumah dan sekitarnya diguyur hujan deras dan tak mau ketinggalan, sang petir terjun menuju bumi. Listrik padam sesuai prosedur kala hujan deras. Nyala sebatang lilin yang rela mengorbankan dirinya untuk menerangi kamarku. Itupun tinggal seperempat. Entah dimana kutaruh saudaranya. Lupa.

Barusan suara petir menyambar cukup keras, menghentikan detak jantung untuk sejenak. Suara hujan yang konstan menandakan belum habis cadangan air di langit. Atap rumah tak mau ketinggalan mengalirkan air lewat celah-celah genting tua tak tertata rapi. Untunglah sudah aku siapkan ember-ember di tempat favorit air hujan mendarat.

Begini rasanya kalau nggak ada listrik, komputer tak nyala, radio tidur, lampu padam. Remang-remang. Paling tidak handphone masih bisa akses plurk dan twitter meski super lelet gara-gara hujan. Untunglah para nyamuk tidak berkeliaran, mungkin mereka berteduh dirumah atau tidak punya payung. :p

catatan mudik 240909

Hari ini aku kurang beruntung. Tadi sore pergi ke warnet, ternyata koneksinya sangat lelet (doh), buka website sendiri aja yang servernya iix nggak kuat (doh)(doh)(doh), dengan perasaan agak jengkel akhirnya memutuskan untuk pulang saja. Tambah sial lagi, flashdiskku ketinggalan di warnet. Baru sadar pas dijalan. Langsung saja dengan motor yang terpacu aku kembali ke warnet tadi. Sesampainya di warnet itu, aku menuju komputer yang aku pakai tadi dan flashdisk sudah raib tak berbekas, aku tanya operatornya pun juga tidak tahu apa-apa. Sekadar info warnet terdekat dari rumah sekitar 3 KM.

Aku paling menyesalkan catatan yang sudah aku ketik dari rumah hilang bersama flashdisk itu. Memang belum jodohnya kali ya. Sepertinya kalau postingan itu kalo dipublish bakal menimbulkan masalah. :-D

Sekarang dengan koneksi gprs im3 seperti postinganku dulu. Nasib masih sama. Sering Request Time Out, sangat Indonesia sekali. Untuk membuka blog sendiri sangat susah. Apalagi untuk blogwalking. Bermimpi pun aku tak berani. Akhirnya buka blog dengan mode tanpa gambar.

Aku ambil hikmahnya aja, mungkin memang sudah nasibku kehilangan flashdisk dan catatan itu. Malah bisa buat lagi seperti catatan ini. Menyesal pun tidak akan mengembalikan apa yang sudah hilang.

Aku malah jadi ketawa sendiri. Ingat kejadian beberapa waktu lalu saat omonganku disalah gunakan. Mungkin baru akan muncul akibatnya beberapa waktu kedepan. Aku coba lupakan saja. Aku nggak akan bisa mengembalikan waktu yang sudah berlalu. Waktu akan berjalan terus tanpa pernah berniat berhenti atau mundur kebelakang.

Perasaan menyebalkan karena tidak bisa terhubung internet ini cukup mengisi hati. Aku benar-benar sudah ketagihan candu internet. Sebuah dunia yang tidak terlihat dan tidak bisa tersentuh oleh indra. Hanya berupa kode-kode digital yang hanya mempunyai nilai 1 dan 0. Benar dan salah. Hidup dan mati. Dihubungkan oleh kabel atau signal radio yang mampu memindahkan semua informasi dari belahan dunia barat ke timur.

Entah desaku ini terlalu terpencil atau memang cukup sedikit pengguna internet, sehingga signal gprs sangat sulit mendapat kestabilan.

Catatan ini sepertinya hanya berisi keluh kesahku yang tiada henti. Mulai dari kehilangan flashdisk sampai koneksi internet yang cukup lemot. Sebenarnya ada hal-hal baik juga selama aku mudik. Misal, kemarin ak reuni sama teman satu kelas saat SMA dulu. Acara kemarin cukup ramai, bisa bertemu teman lama, berbagi pengalaman dan berbagi cerita seru maupun cerita aneh. Banyak hal yang bisa aku ambil saat berkumpul dengan teman-teman lama.

Saat kembali ke desa, aku jadi ingat masa kecilku dulu. Mulai dari SD sampe SMA. Kelas dua SD aku pindah ke desa ini, aku begitu terkesan dengan sawah yang luas dan cara memasak yang pakai kayu bakar. Udara segar yang sedikit tercemar, bau kayu bakar yang khas membuatku betah di desa. Terasa dekat sekali dengan alam.

Sebaiknya kuakhiri catatanku sampai di sini.