Percakapan default di mini market

Mini-Market

Tiga tahun lebih, saya mulai hidup di kota Solo. Mulai mengenali kembali kota di mana saya dilahirkan dan saya tinggalkan waktu kecil. Banyak yang berubah sejak belasan tahun silam. Meski sebenarnya, tak banyak detil yang saya ingat. Mungkin saat ini yang paling kentara adalah, begitu menjamurnya mini market model franchise di setiap pemukiman strategis.

Ketika kelaparan jam 3 malam, saya akan keluar dan menuju mini market terdekat yang buka 24 jam. Terserah dengan segala sesuatu berbau kapitalis atau neolib. Yang penting perut saya tidak kosong, dan tidur nyenyak. Saya pun lebih mirip oportunis daripada idealis.

Saking seringnya saya mengunjungi mini market terutama setelah jam 12 malam – karena sebelum tengah malam, saya akan lebih memilih warung klontong tetangga yang masih buka – adalah sapaan saat di depan pintu, kira-kira akan terjadi percakapan default seperti ini:

“Selamat malam”, sapa pelayan dengan senyum dan penuh dedikasi meski mata sayu karena ngantuk.

“Malam”, jawab saya datar, perut lapar, buat senyum saja malas, atau kadang saya cuma mengangguk.

Saya akan melenggang masuk, mencari yang saya butuhkan. Mungkin setelah mendapatkan apa yang saya butuhkan, saya akan tetap berhenti sejenak, melihat barang dagangan sekitar, yang mungkin akan saya butuhkan.

Selesai berpikir, dan ternyata saya tidak termakan strategi marketing dengan menumpuk barang di sekitar agar saya tertarik membeli, saya akan menuju kasir. Percakapan default kembali terjadi:

“Sudah cukup ini pak”, kata penjaga kasir.

“Yap”, masih datar saya menjawab, kenapa saya dipanggil “Pak” karena muka saya terlalu tua atau memang kalimat pertanyaan default, entahlah.

“Sekalian, beli pulsa?”, sambung penjaga kasir.

“Nggak”, teman di #RBI ada yang jual pulsa, dan bisa ngutang, kenapa mesti beli cash? :D .

Penjaga kasir akan menghitung total pembelian, saya pun akan diam seribu bahasa, tak bertanya lebih jauh atau sok akrab untuk tahu lebih banyak tentang kehidupannya, karena saya sudah terlalu banyak tahu tentang kehidupan orang lain, dan tidak berencana menambah dalam waktu dekat.

“Semuanya, sekian ribu”, kata penjaga kasir – saya tidak akan menulis total pembelian saya, karena anda pun tak ingin tahu hal itu bukan, :D .

“Terima Kasih, Selamat Malam”, sambung penjaga kasir setelah memyerahkan kembalian – kalau ada – dan menyerahkan barang belanjaan saya.

“Malam”, jawab saya pendek.

Percakapan ini benar-benar default yang sering saya lakukan ketika membeli suatu barang di mini market. Meski mini market berbeda merk dagang, kalimat sambutan terasa sekali tak jauh beda. Entah karena kurang kreatif, atau hanya sekadar standarisasi pelayanan. Whatever.

Mungkin akan lebih baik jika suatu saat saya membawa papan yang ditulisi beberapa jawaban default saya ini. Sehingga saya bisa menghemat nafas meski sedikit :p.

Penyelesaian

Penyelesaian

Pelajaran berharga, ketika menjadi seseorang yang harus benar-benar netral mengatasi masalah atau konflik. Miskomunikasi rentan terjadi pada pemecahan pertikaian antar teman. Saya harus benar-benar mendengar dari kedua belah pihak, dan melihat dari sudut pandang orang luar, tanpa terpengaruh penilaian subjektif.

Suatu masalah yang dipandang dari satu pihak, hanya memperburuk keadaan. Perlunya empati dan menahan diri tanpa terpengaruh perasaan memihak menjadi pegangan. Masalah atau konflik sering berefek domino, berhubungan satu dengan yang lainnya. Mengurai satu per satu simpul kejadian sehingga menjadi gambaran besar suatu masalah. Jalan keluar masalah pun lebih mudah ditemukan.

Perlu adanya keterbukaan dari kedua belah pihak. Sama-sama ingin memecahkan masalah. Kerendahan hati mengakui kesalahan, kejujuran mengungkap kunci-kunci penting tanpa harus membeberkan hal-hal pribadi dan konsistensi menjalankan penyelesaian masalah tanpa mengulangi pemicu masalah itu sendiri.

Hari ini saya merasa sangat banyak mendapat pelajaran berharga. Sebagai seorang teman, mediator, dan manusia tentunya. Terima kasih kawan.

© sumber gambar: http://controversins.blogspot.com

Hujan, keluhan, kenangan

hujan

Hujan. Berkah yang banyak dikeluhkan. Musim hujan ini semakin banyak saja yang mengeluhkan tentang hujan. Lha, nggak bisa melawan cuaca. Kenapa nggak diterima saja. Udah dikasih air gratis biar tak kekeringan, tetep saja banyak keluhan – saya sendiri juga ngeluh, seperti keadaan saya siang ini, tidak bisa pergi ke manapun, dan harus menahan lapar.

Kalau dilihat dari sisi lain, hujan, mengingatkan kenangan masa lalu. Kenangan yang mungkin lebih terkesan dari terjemur teriknya matahari. Kenangan saat hujan yang terukir bersama someone special. Kenangan yang mungkin terlupakan, dan hanya diingat saat hujan.

© gambar: http://fazz.files.wordpress.com/2009/07/raining.gif

Ingin Sendiri

kesendirian

Kadang, perasaan ingin sendiri sering muncul tiba-tiba. Kesendirian bukan berarti ingin menghindari dunia. Kesendirian sebagai saat merenung atau sekadar instropeksi diri. Menyelami kehidupan. Menjelajah ruang dan waktu masa yang telah dilampaui. Memilah dan memilih mana yang keliru dan harus diperbaiki. Mengambil pelajaran dan menjadikan pedoman kebenaran yang telah dilakukan.

Suatu momen yang mungkin kadang terlewat begitu saja. Terlalu sibuk dengan kesibukan beneran atau buatan. Apalagi jika terlalu aktif memantau social media sehingga malah terlalu sibuk mengurusi urusan orang lain. Be busybody.

Momen sendiri beberapa saat, menata pikiran, menenangkan jiwa. Paling tidak, sebentuk terima kasih pada diri sendiri. Mau coba?

© sumber gambar: http://crestondavis.wordpress.com

blog dan blogger

blog

Blog, Weblog, Online Diary, dan sebutan lainnya, masih terasa awam bagi sebagian orang yang akrab dengan internet. Orang yang hobi nge-blog biasa disebut blogger pun, sering disangka spesies lain yang punya makanan, hobi, ketertarikan tersendiri. Kadang saya bingung mau jawab, ketika ditanya “selera musik blogger itu apa?”, atau “makanan favorit blogger itu apa?”, bahkan ada yang tanya “San, pekerjaanmu masih blogger?”. WTF, sejak kapan blogger jadi pekerjaan?

Bahkan isi blog saya hanya catatan, yang mungkin saya anggap penting, atau sekadar keusilan jari-jari saya memencet tuts keyboard. Dan, blogger itu bukan makhluk dari Spesies lain atau malah Ordo lain. We’re just Human with blogging as hobbies.

Lalu, bermanfaat atau tidak nge-blog itu? Konten setiap blog berbeda satu yang lainnya, terserah pembuat blog itu sendiri. Tak ada yang mengatur. Pembaca atau pencari informasi yang membuka atau nyasar  ke sebuah blog, jika sesuai yang diingin dan dibutuhkan, maka bermanfaat, jika tidak, minimal bisa jadi referensi dikemudian hari.

Soal tren nge-blog, saya suka dengan posting PamanTyo, berikut cuplikannya:

Kalau cuma tren, tak ada blog baru, tak ada posting baru. Kalau blog cuma tren, RSS reader hanya berisi produk jurnalistik dari media terlembagakan. Tapi ya itu tadi, tak mungkin (dan tak perlu) kita berharap semua pengguna internet menjadi blogger.

Sumber: http://blogombal.org/2010/11/16/pada-akhirnya-adalah-seleksi/