di Dini Hari

Yang aku ingat di dini hari adalah kelaparan dan insomnia. Solusinya adalah menuju ruang makan. Suasana yang sunyi, dengungan konstan lemari es, suara gemeletak barang pecah belah ketika aku bongkar isi meja makan. Kadang aku tak sabaran, mengacak-acak meja makan sampai menemukan sesuatu yang bisa dimakan – mirip tikus kelaparan yang tak makan berhari-hari. Continue reading

catatan mudik 240909

Hari ini aku kurang beruntung. Tadi sore pergi ke warnet, ternyata koneksinya sangat lelet (doh), buka website sendiri aja yang servernya iix nggak kuat (doh)(doh)(doh), dengan perasaan agak jengkel akhirnya memutuskan untuk pulang saja. Tambah sial lagi, flashdiskku ketinggalan di warnet. Baru sadar pas dijalan. Langsung saja dengan motor yang terpacu aku kembali ke warnet tadi. Sesampainya di warnet itu, aku menuju komputer yang aku pakai tadi dan flashdisk sudah raib tak berbekas, aku tanya operatornya pun juga tidak tahu apa-apa. Sekadar info warnet terdekat dari rumah sekitar 3 KM.

Aku paling menyesalkan catatan yang sudah aku ketik dari rumah hilang bersama flashdisk itu. Memang belum jodohnya kali ya. Sepertinya kalau postingan itu kalo dipublish bakal menimbulkan masalah. :-D

Sekarang dengan koneksi gprs im3 seperti postinganku dulu. Nasib masih sama. Sering Request Time Out, sangat Indonesia sekali. Untuk membuka blog sendiri sangat susah. Apalagi untuk blogwalking. Bermimpi pun aku tak berani. Akhirnya buka blog dengan mode tanpa gambar.

Aku ambil hikmahnya aja, mungkin memang sudah nasibku kehilangan flashdisk dan catatan itu. Malah bisa buat lagi seperti catatan ini. Menyesal pun tidak akan mengembalikan apa yang sudah hilang.

Aku malah jadi ketawa sendiri. Ingat kejadian beberapa waktu lalu saat omonganku disalah gunakan. Mungkin baru akan muncul akibatnya beberapa waktu kedepan. Aku coba lupakan saja. Aku nggak akan bisa mengembalikan waktu yang sudah berlalu. Waktu akan berjalan terus tanpa pernah berniat berhenti atau mundur kebelakang.

Perasaan menyebalkan karena tidak bisa terhubung internet ini cukup mengisi hati. Aku benar-benar sudah ketagihan candu internet. Sebuah dunia yang tidak terlihat dan tidak bisa tersentuh oleh indra. Hanya berupa kode-kode digital yang hanya mempunyai nilai 1 dan 0. Benar dan salah. Hidup dan mati. Dihubungkan oleh kabel atau signal radio yang mampu memindahkan semua informasi dari belahan dunia barat ke timur.

Entah desaku ini terlalu terpencil atau memang cukup sedikit pengguna internet, sehingga signal gprs sangat sulit mendapat kestabilan.

Catatan ini sepertinya hanya berisi keluh kesahku yang tiada henti. Mulai dari kehilangan flashdisk sampai koneksi internet yang cukup lemot. Sebenarnya ada hal-hal baik juga selama aku mudik. Misal, kemarin ak reuni sama teman satu kelas saat SMA dulu. Acara kemarin cukup ramai, bisa bertemu teman lama, berbagi pengalaman dan berbagi cerita seru maupun cerita aneh. Banyak hal yang bisa aku ambil saat berkumpul dengan teman-teman lama.

Saat kembali ke desa, aku jadi ingat masa kecilku dulu. Mulai dari SD sampe SMA. Kelas dua SD aku pindah ke desa ini, aku begitu terkesan dengan sawah yang luas dan cara memasak yang pakai kayu bakar. Udara segar yang sedikit tercemar, bau kayu bakar yang khas membuatku betah di desa. Terasa dekat sekali dengan alam.

Sebaiknya kuakhiri catatanku sampai di sini.

Perkara Ambén

Kadang saya merasa heran, cuma sepotong ambén aja bisa menimbulkan masalah pelik yang cukup membuat pening kepala. Saya katakan sepotong karena sebenarnya “ambén” itu sendiri tidak hanya satu. Dan tidak sebanding dengan kertas-kertas berharga yang dimilikinya. Hal seperti itu menjadi masalah yang cukup pelik dan menyakiti banyak pihak.

Bukan masalah memperkarakan ambén, toh, itu bukan urusanku juga. Tapi, kenapa berawal dari ambén bisa sampe membahas hal-hal yang sebenarnya tidak pantas dibicarakan, dan tidak relevan. Menjadikan api yang tersulut kecil, kebakaran yang cukup besar untuk mengotori hati di bulan puasa yang notabene disucikan dari bulan-bulan lainnya.

Lalu kemana perginya petunjuk yang selama ini dibanggakan dan diagung-agungkan, kalau dengan suatu selentingan yang belum jelas kebenarannya menjadi perkara yang sangat besar.

Saya sendiri juga sebenarnya bersikap egois karena membahas masalah yang mengenai diri saya sendiri, sedang kalau masalah yang serupa menimpa orang lain saya akan cuék. Masa bodoh. Terserah saya dianggap seperti apapun, saya bukan anda dan anda bukan saya. Entah dimana rasa perikemanusiaan saya, saat saya menghakimi orang lain hanya dengan sekali lihat.

Saya sering lebih melihat semua hal dari sisi aliran air kemana akan mengalir, dan kemana saya bisa mengubah arah perahu saya supaya tidak terseret aliran itu. Jangan salah, bukan berarti saya tidak punya pendirian, dan ini bukan pembenaran.

Kalau dilihat dengan cara apapun saya tidak bisa menghentikan atau mengatur bagaimana seseorang itu mendapat petunjuk. Sedang hanya Allah yang bisa memberi petunjuk. Kalau pun saya cuma menyampaikan, itu bukan berarti anda harus menuruti semua perkataan saya. Tanyalah pada diri anda sendiri yang bersih dan tanpa praduga. Dimana salah seseorang sehingga kita patut mendakwa dia bersalah.

Kalau pun dia tidak mendapat petunjuk, bukan berarti dia tidak bersalah, dan bukan berarti dia bersih dari dosa. Itulah proses ujian yang harus dilalui dalam hidup seseorang. Bukan salah siapa pun kalau misalnya saya tidak lulus ujian, itu murni salah saya sendiri yang memang tidak mau memikirkan petunjuk yang sudah diberikan kepada saya. Bukan salah orang tua saya, bukan salah famili saya, saudara, teman, lingkungan.

Jadi salah siapa kalau misalnya saya lebih memilih ambén daripada hubungan silaturahim antar manusia???

(catatan: ambén = bangku rendah panjang biasa dipakai tempat duduk)

Asal Tulis

Lama sudah tidak update blog ini. Lagi-lagi karena terbentur kesibukan atau malah kemalasan menuangkan tulisan. Entah kemana ide dan kreatif berlibur sehingga belum ada sesuatu yang bisa ditulis.

Mulailah keisengan menulis menghampiri benakku sekedar untuk menyapa kawan-kawan yang membaca blog saya ini.

O ya, saya ucapkan terima kasih kepada Mas Iqbal yang memberi award kepada blog saya ini. Sampe sekarang saya masih belum ambil karena nggak tahu mesti gimana. he…he…he…

Sebenere ada beberapa tutorial dan tulisan yang mau saya posting, tapi masih belum tuntas. Bukan karena kesibukan tapi karena kemalasan aja. he…he…he…