Self taught web developer, author of VirtueMagz.com, currently working on several freelance projects. Spend free time to write blogs, read books and do someting

Nyewu Di Torn

Sebenarnya saya pernah menulis tentang Torn City, kira-kira tiga tahun yang lalu. Saat membaca tulisan saya yang lama, jadi pengen ketawa sendiri, ternyata saya pernah menulis asyik – hanya curcol, jadi nggak nyambung.

Jika kamu belum tahu tentang Torn, saya jelasin sedikit deh. Torn adalah game online berbasis teks, dengan latar kehidupan kriminal di sebuah kota bernama Torn City. Kamu bisa jadi karyawan yang baik di perusahaan atau Badan Usaha Milik Torn (BUMT) sekaligus bertindak sebagai kriminal, terserah. Continue reading

Insto Moist atasi mata merah

insto-moist-atasi-mata-merah

Insto Moist atasi mata merah

Jika mendengar atau membaca “mata merah” dan Insto, saya teringat 3 tahun lalu ketika Hassan remaja baru saja mengenal Photoshop. Bermain-main editing foto begitu sangat menyenangkan. Mulai dari mengubah gambar entah dari mana sampai gambar muka sendiri hasil jepretan dari sudut yang agak sulit terjangkau (alay). :p

Continue reading

The Darkness Of Gatotkaca

Seorang patriot yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai yang dia pegang.
Seorang panglima perang yang selalu melaksanakan tugas dengan tuntas.
Seorang pahlawan yang selalu rela berkorban demi bangsa dan junjungannya.
Sosok yang hidup dalam kesendirian dan kesunyian.
quote ini diambil dari sampul buku The Darkness Of Gatotkaca

The Darkness of Gatotkaca buku karangan Pitoyo Amrih, baru saja selesai saya baca. Buku ini menceritakan tentang kisah kehidupan Gatotkaca, tokoh dunia wayang yang memiliki kesaktian tanpa tanding di dunia wayang. Gatotkaca lahir dari pasangan Raden Bima dan Dewi Arimbi. Bisa dikatakan persilangan antara manusia dan bangsa raksasa. Continue reading

Percakapan default di mini market

Mini-Market

Tiga tahun lebih, saya mulai hidup di kota Solo. Mulai mengenali kembali kota di mana saya dilahirkan dan saya tinggalkan waktu kecil. Banyak yang berubah sejak belasan tahun silam. Meski sebenarnya, tak banyak detil yang saya ingat. Mungkin saat ini yang paling kentara adalah, begitu menjamurnya mini market model franchise di setiap pemukiman strategis.

Ketika kelaparan jam 3 malam, saya akan keluar dan menuju mini market terdekat yang buka 24 jam. Terserah dengan segala sesuatu berbau kapitalis atau neolib. Yang penting perut saya tidak kosong, dan tidur nyenyak. Saya pun lebih mirip oportunis daripada idealis.

Saking seringnya saya mengunjungi mini market terutama setelah jam 12 malam – karena sebelum tengah malam, saya akan lebih memilih warung klontong tetangga yang masih buka – adalah sapaan saat di depan pintu, kira-kira akan terjadi percakapan default seperti ini:

“Selamat malam”, sapa pelayan dengan senyum dan penuh dedikasi meski mata sayu karena ngantuk.

“Malam”, jawab saya datar, perut lapar, buat senyum saja malas, atau kadang saya cuma mengangguk.

Saya akan melenggang masuk, mencari yang saya butuhkan. Mungkin setelah mendapatkan apa yang saya butuhkan, saya akan tetap berhenti sejenak, melihat barang dagangan sekitar, yang mungkin akan saya butuhkan.

Selesai berpikir, dan ternyata saya tidak termakan strategi marketing dengan menumpuk barang di sekitar agar saya tertarik membeli, saya akan menuju kasir. Percakapan default kembali terjadi:

“Sudah cukup ini pak”, kata penjaga kasir.

“Yap”, masih datar saya menjawab, kenapa saya dipanggil “Pak” karena muka saya terlalu tua atau memang kalimat pertanyaan default, entahlah.

“Sekalian, beli pulsa?”, sambung penjaga kasir.

“Nggak”, teman di #RBI ada yang jual pulsa, dan bisa ngutang, kenapa mesti beli cash? :D .

Penjaga kasir akan menghitung total pembelian, saya pun akan diam seribu bahasa, tak bertanya lebih jauh atau sok akrab untuk tahu lebih banyak tentang kehidupannya, karena saya sudah terlalu banyak tahu tentang kehidupan orang lain, dan tidak berencana menambah dalam waktu dekat.

“Semuanya, sekian ribu”, kata penjaga kasir – saya tidak akan menulis total pembelian saya, karena anda pun tak ingin tahu hal itu bukan, :D .

“Terima Kasih, Selamat Malam”, sambung penjaga kasir setelah memyerahkan kembalian – kalau ada – dan menyerahkan barang belanjaan saya.

“Malam”, jawab saya pendek.

Percakapan ini benar-benar default yang sering saya lakukan ketika membeli suatu barang di mini market. Meski mini market berbeda merk dagang, kalimat sambutan terasa sekali tak jauh beda. Entah karena kurang kreatif, atau hanya sekadar standarisasi pelayanan. Whatever.

Mungkin akan lebih baik jika suatu saat saya membawa papan yang ditulisi beberapa jawaban default saya ini. Sehingga saya bisa menghemat nafas meski sedikit :p.