Oblong Merah Muda

Hari ini, saya bersama teman-teman Bengawan mengikuti acara “Oblong Merah Muda” yang diselenggarakan Komunitas Blogger Ngalam, tentu saja di kota Malang.

Seperti biasa, acara komunitas blogger yang rangkaiannya lebih dari sehari, seringnya komunitas tuan rumah menyediakan tempat penginapan untuk tamu komunitas blogger luar kota. Kali ini, Globber Ngalam — julukan Blogger Malang — menyediakan barak militer untuk penginapan — berasa wajib militer.

Dan rangkaian hari pertama adalah Seminar sehari. Acara seminar berjalan cukup lancar, narasumber-narasumber menarik menambah meriah seminar sehari — karena saya tak suka seminar, ya kadang lebih sering keluar ruangan daripada dengerin juga malah ngantuk :D .

Sekian dulu kesan saya, nanti diperbaruhi lagi.

Update Selasa, 10 Januari 2011

Sarasehan dan tumpengan di malam gerimis romantis di tengah barak penginapan sungguh menyenangkan. Peserta yang menginap, berkumpul dan bercengkrama segelas teh atau kopi panas. Nasi tumpeng sudah menghiasi pusat lingkaran blogger yang duduk melingkar malam itu. Kedatanganku sedikit terlambat, tapi masih lebih cepat untuk ikut bersyukur atas usia Blogger Ngalam yang ke empat.

Lanjutan dari tumpengan Blogger Ngalam, sarasehan antar komunitas menghangatkan acara malam itu. Masing-masing komunitas saling memperkenalkan diri dan mengungkap kisah yang terjadi di komunitas. Diakhir acara, Donny BU (om sehat), Sigit Widodo (om .id) dan Blontank Poer (om blontea) membuka diskusi membahas serba-serbi berkomunitas.

Minggu, 8 Januari 2011, gerimis masih betah menggelayuti langit pagi itu. Blogger diajak berjalan-jalan jelajah Kota Malang dipandu oleh Blogger Ngalam dan teman-teman Museum Inggil. Mulai mengunjungi Balai Kota Malang, Taman Kota, kemudian menuju alun-alun kota. Sebelum sampai alun-alun kota saya, Blontank Poer, Dony Alfan (om k800), Heru LS (om LO) berpisah dengan rombongan, saat itu kami tertarik mengunjungi Restoran Oen yang terkenal.

Menaiki becak, sekian lama saya tak naik becak, membawa kami menuju Museum Brawijaya. Museum persenjataan yang petama kali saya kunjungi. Saya sebenarnya menyukai senjata — karena suka main game perang — tapi saat teringat sebuah quote “A big Gallery for some others misery”. saya menjadi merasa sedih. Senjata menjadi alat untuk menundukkan pihak yang bertentangan. Sekarang, senjata kadang tak terbuat dari besi atau pecahan atom, namun cukup selembar kertas dan materai. :p

Selesai menikmati senjata, kami kembali ke Museum Inggil yang juga Restoran. Makan siang dengan hiburan tari-tarian. Melepas lelah dan lapar. Meski akhirnya saya tak mendapat colokan. Namun perut cukup kenyang. Berpamitan dengan Suryaden, Verry, dan Mbak Rika.

Selamat Blogger Ngalam. Oblong Merah Mudah adalah pengalaman yang menarik ketika berkunjung pertama kali di Malang. Sampai Jumpa.

Special thanks to Fajar Mcxoem (om mesum), Fajar Embun (om donat), Kyai Slamet (mbah mesum), dan segenap Globbers Ngalam. :D



Post Berkaitan:

20 thoughts on “Oblong Merah Muda

  1. Semnan, sejak kapan aku jadi Om LO woiii???
    !@#$%^&*()

    Etapi yg penting itulah pengalaman saya kopdar pertama kali yg keluar daerah,
    Jangan kapok ajak2 saya ya paman, hihi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title="" rel=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>