Opera Mini 5 final

Browser mobile phone Opera Mini 5 final keluar juga. Sebagai pengguna setia Opera Mini, kehadiran versi final ini sangat ditunggu-tunggu. Saat download dari mobile phone, ukuran file sebesar 268KB selesai kurang dari 5 menit dengan koneksi GPRS IM3.

Untuk pertama kali pemakaian, ada proses instalasi yang memakan waktu kurang dari 3 menit di handphone Sony Ericsson W660i. Cukup terkejut dengan tampilan awal Opera Mini 5 final dengan background warna putih, berbeda dengan versi betanya yang mempunyai background warna hitam. Setelah proses instalasi, tampilan awal speed dial sedikit mengalami perubahan. Tampilan screenshot bookmark di speed dial tidak ada garis batas sehingga gambar terkesan timbul. Tampilan huruf pun lebih rapi dan ramping.

Saat penggunaan, saya tidak terlalu kaku, sebab sudah terbiasa dengan versi beta yang mirip. Fitur mulai tab sampai password manager masih bersemayam di versi final ini. Adanya downloader yang bisa download file tanpa harus keluar dari browser lebih disempurnakan. Juga fitur Opera Link, untuk sinkronisasi dengan akun My Opera.

Begitu banyaknya bug di versi Opera Mini 5 beta 2 yang setia menemani aktivitas browsing, sayangnya masih ada yang tertinggal di versi final ini. Seperti saat submit form tidak ada respon sama sekali, malah tulisan hilang. Dari segi kecepatan respon, cukup mengalami perkembangan. Penggunaan memory juga diklaim Opera lebih kecil.

Opera Mini 5 Final ini direkomendasikan untuk tertanam di mobile phone Anda. Apalagi bagi Anda yang selama ini memakai versi Opera Mini 5 beta 2. Tapi bagi Anda yang masih setia dengan Opera Mini 4.x sebaiknya jangan update dulu, sebab Opera Mini 5 Final ini langsung menumpuk instalasi Opera Mini 4.x. Bebeda dengan versi beta yang bisa di install terpisah. Bagi Anda yang suka dengan tabbed browser, password manager dan fitur-fitur baru Opera Mini 5 Final sebaiknya segera mencoba browser anyar ini.

Update 19/3/2010: Link Download Here

Sore

Sore, cerah, terasa damai sekali. Sudah lama sekali tidak menikmati. Hampir dua tahun disibukkan pekerjaan menyita waktu dan terpaksa menghabiskan waktu di dalam gedung tanpa menyadari pergantian antara siang dan malam itu.

Saat duduk di depan rumah, seperti menemukan sesuatu yang hilang. Perasaan damai saat menyaksikan pergantian siang dan malam membangkitkan memori masa kecil. Memori saat masih ber umur satuan belum belasan bahkan puluhan. Masa kecil saat belum tahu dosa, bukan tidak berdosa. Saat tidak ada beban karena tidak pernah memikirkan masa depan. Hanya menjalani kehidupan mulai membuka kelopak mata sampai terpejam kembali di sepertiga awal malam.

Bedanya dengan sekarang lalu lalang kendaraan lebih ramai daripada dulu. Pohon jambu air yang dulu berdiri tegak sudah hilang tak berbekas. Tinggal pohon belimbing di sebelah barat dan beberapa pohon yang menjulang seperti tombak disebelah timur. Rumah ini pun sudah ditinggalkan penghuni yang lain. Membuat rumah-rumah lain. Rumah ini diam sepi, tak bersuara riang lagi.

Suasana sore ini menghanyutkan. Membius takut dan khawatir. Tinggal damai menyelimuti. Seperti sore yang berumur pendek, kedamaian pun terusik suara handphone. Alat yang sebenarnya menjajah privasi. Mau tak mau, harus angkat kaki dari kedamaian ini. Semoga esok bertemu sore lagi.

Berlayar Ke Alaska

Cruise On You judul buku kedua Margareta Astaman, tentang mimpi seorang marella sejak kecil ingin naik kapal pesiar. Impian yang sering dilupakan oleh setiap orang yang beranjak dewasa, bahwa ada anak-anak dalam setiap diri kita yang kita bunuh minimal ditidurkan, anak-anak yang mempunyai mimpi sehingga hidup itu lebih bersemangat daripada sekadar realita yang lebih berjalan stagnan – mapan. Anak kecil yang selalu bersemangat bermimpi setinggi langit, percaya keberuntungan bukan sekadar perjudian yang kemungkinannya 1:100 tapi adalah nyata bila kita berusaha mewujudkannya.

Cruise On You - Margareta Astaman

Adalah Marella seorang gadis dewasa yang bekerja sebagai creative illustrator dengan gaji dua juta perbulan plus kegemaran belanja sepatu menjauhkannya menabung untuk meraih mimpinya berlayar dengan kapal pesiar. Tapi, bermula dari iseng mendaftar lomba foto romantis berhadiah berlayar ke Alaska, Marella bisa mewujudkan impiannya berlayar dengan kapal pesiar.

Entah sial atau memang nasib, ticket berlayar itu hanya bisa diambil oleh pasangan yang ada di foto. Dan tambah sial lagi, foto itu merupakan foto berdua dengan mantan pacarnya. Mantan pacar yang tidak pernah ingin ditemui lagi disisa hidup Marella. Adegan-adegan kocak dan konyol mengaliri buku ini, membuat aliran cerita menjadi sangat enak dibaca. Mulai dari kisah Marella mencari mantan pacarnya dengan menelpon separuh jakarta sampai keleleran dipinggir jalan, bahkan saat kepalanya blank, dia REG salah satu paranormal terkenal, meminta wangsit keberadaan mantan pacarnya.

Margie, sapaan akrab Margareta Astaman, menggambarkan seting secara detail. Saat membacanya serasa saya dibawa ke Alaska menikmati suasana keindahan gletser, tambang emas kuno juga hutan tundra. Drama-drama kocak antara sepasang mantan kekasih saat berlayar, hingga konflik emosi yang akhirnya mendamaikan perseteruan seumur hidup mantan pasangan itu.

Yang perlu ditarik pesan dari buku kedua Margie ini adalah impian tidak boleh dibunuh, semustahil apapun impian, nyatanya nggak ada yang mustahil. Semangat mewujudkan impian. Dan jalan mencapai impian harus dengan jalan yang jujur, bukan sebuah kepalsuan atau kebohongan, pada akhirnya biji yang buruk buahnya juga buruk. Dan biji yang baik tidak akan berhenti berbuah kebaikan.

Dan akhirnya saya tak harus berlayar dua minggu untuk menikmati Alaska, malahan bisa tertawa membaca dan mendapat pelajaran berharga dengan Cruise On You.